Rabu, 05 April 2017

PSIKOLINGUISTIK MENTALISTIK, BEHAVIORISTIK, DAN KOGNITIFISTIK.

PSIKOLINGUISTIK MENTALISTIK, BEHAVIORISTIK, DAN KOGNITIFISTIK.


Psikolinguistik merupakan kajian ilmu bahasa yang dapat mengkaji sisi-sisi ilmu jiwa dalam manusia. Definisi psikologi adalah ilmu yang mengkaji iiwa yang masih bisa dipertahankan. Sedangkan, dalam linguistik ialah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Psikolinguistik yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masingnya linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dalam perkembangannya, Psikologi telah terbagi menjadi beberapa aliran sesuai dengan paham filsafat yang dianut. Karena itulah dikenal adanya psikologi yang mentalistik, yang behavioristik, dan yang kognitif. Psikologi yang mentalistik melahirkan aliran yang disebut dengan psikologi kesadaran (Chaer, 2015: 2).
            Pada awalnya psikolinguistik itu sendiri bekerja sama anatara kedua disiplin itu disebut linguistic psychology dan ada juga yang menyebutkan psychology of language. Kemudian sebagai hasil kerja sama yang lebih baik, lebih terarah, dan lebih sistematis diantara kedua ilmu itu, lahirlah satu disiplin ilmu baru yang disebut psikolinguistik, sebagai ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik. Dalam psikolinguistik berkaitan dengan adanya mentalistik yang mencoba mengkai proses-proses akal manusia dengan cara menginstropeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi kesadaran lazim juga disebut psikologi introspeksionisme. Psikologi ini merupakan suatu proses akal dengan cara melihat ke dalam diri sendiri setelah suatu rangsangan terjadi. Psikologi yang behavioristik melahirkan aliran yang disebut psikologi perilaku. Psikologi behavioristik ini mencoba mengkaji perilaku manusia yang berupa reaksi apabila suatu rangsangan terjadi, dan selanjutnya berbagai mengawasi dan mengontrol perilaku itu. Jadi, para pakar psikologi perilaku ini tidak mengkaji ide-ide, pengertian, kemauan, keinginan, maksud, pengharapan, dan segala mekanismefisiologi. Psikologi yang kognitif disebut psikologi kognitif yang mencoba mengkaji proses-proses kognitif manusia secara ilmiah. Proses kognitif adalah proses-proses akal (berpikir) manusia yang bertanggung jawab mengatur pengalaman dan perilaku manusia (Chaer, 2015: 3).
            Di dalam pembahasan mengenai psikolinguistik mentalistik, behavioristik, dan kognitifistik merupakan aliran sesuai dengan paham filsafat yang dianut. Pada psikolinguistik mentalistik mengkaji proses akal manusia yang terkait dengan kesadaran. Sedangkan, psikolinguistik behavioristik mengkaji perilaku manusia. Namun proses ini tidak dapat diamati atau diobservasi secara langsung. Psikolinguistik kognitifistik mengkaji proses kognitif manusia secara ilmiah yang dimaksud proses akal berpikir.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2015. Psikolinguistik: kajian teoristik. Jakarta : Rineka cipta.


Budaya khas Kota Gresik (Malam selawe atau malam 25)


Kali saya ingin menceritakan budaya khas kota gresik buat kalian yang belum tahu dan ingin tahu simak baik-baik yaa J
Kota Gresik adalah salah satu kota yang sering dikenal dengan sebutan kota santri yang banyak memiliki budaya-budaya khas kota gresik. Banyak budaya khas gresik yang menunujukkan keindahan serta saling membaurnya masyarakat kota Gresik yakni sebagai berikut Malam selawe, Pasar bandeng, Kolak ayam, Rebo wekasan, dll. Beberapa dari budaya khas gresik kami akan mengangkat mengenai Malam selawe.
Malam selawe atau sebutan lain malam 25 ialah sebuah tradisi budaya khas gresik di bulan ramadhan. Budaya ini ditandai dengan pemburuan lailatul qadar dan peziarah kemakam sunan giri. Budaya ini bertempatkan disekitar  jalan raya sunan giri. Tradisi malam selawe biasanya di hari 24 bulan ramadhan dan menjelang malam puncaknya hari 25 bulan ramadhan. Banyak ratusan pedagang kaki lima yang mencari rezeki di sekitar jalan raya sunan giri. Bagi peziarah yang ingin menuju ke makam sunan giri harus berjalan kaki terlebih dahulu karena, ribuan orang memenuhi jalan di malam selawe.  Malam selawe mempunyai nilai tradisi yang menjadi pasar malam di bulan yang spesial. Semoga kita selalu mengingat dan mendapat hidayah dari ALLAH SWT.
Buat yang sudah membaca postingan saya makin kepo dengan kelanjutan posting saya J bye ....

Sejarah sastra (Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik) Resensi

Analisis Novel
Iri Hati
Oleh Lieza Yanti

Judul buku : Sengsara Membawa Nikmat
Pengarang : Tulis Sutan Sati
Penerbit : Balai Pustaka 
Tahun Terbit : Cetakan X, 2006
Tebal : 204 halaman 

Sekilas mengenai novel “Sengsara Membawa Nikmat”

A. Sinopsis
Tulis Sutan Sati ingin menggambarkan sebuah hegemoni kekuasaan yang mewarnai kehidupan masyarakat Minangkabau pada zamannya. Kisah dalam novel ini berawal dari kebencian Kacak, kemenakannya Tuanku Laras - seorang penghulu kampung - terhadap Midun. Kacak membenci Midun karena ia sangat disayangi oleh orang sekampung. Sementara Kacak, tidak dihormati orang. Kesempatan untuk membalaskan dendam akhirnya tiba. Bermula dari sikap Midun yang menjadi pahlawan bagi orang-orang di pasar atas ulah Pa Inuh - pamannya Kacak yang hilang ingatan  yang membawa pisau dan mengamuk di pasar. Sebenarnya Pa Inuh tidak dilukai oleh Midun, karena luka tersebut adalah atas ulah Pa Inuh sendiri. Namun, Kacak merasa tidak terima. Ia melaporkan Midun kepada Tuanku Laras hingga ia dihukum bekerja rodi selama enam hari. 
 Kebencian Kacak kepada Midun semakin manjadi-jadi. Ia membayar Lenggang - pembunuh bayaran - untuk membunuh Midun pada saat perhelatan pasar malam dan pacuan kuda di Bukittinggi. Namun, usaha tersebut gagal dan berakhir dengan dipenjaranya Midun dan diasingkan ke Padang selama enam bulan. 
 Setelah masa hukumannya usai, ia mencoba menolong Halimah yang dikenalnya saat menjalani hukuman. Halimah yang jiwanya terancam, meminta Midun untuk mengantarkannya ke Jawa. Sebuah petualangan hidup akhirnya dijalani Midun dengan sukses sampai akhirnya ia diangkat menjadi menteri polisi dan kemudian menikah dengan Halimah. Sementara itu, ayah Midun meninggal di kampung halamannya dan seluruh harta warisan ayahnya diambil oleh pihak keluarga ayahnya. 
 Selama enam tahun, Midun tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Ia bersama istrinya, berniat menemui keluarga Midun. Midun kemudian ditugaskan di Bukittinggi sebagai asisten demang. Kemudian ia dingkat pula menjadi penghulu kampung. Bagian ini merupakan akhir dari cerita ini. 
B. Analisis

1. Unsur Intrinsik

a. Tema

Tema yaitu pokok permasalahan yang mendasari cerita.  Tema yang diangkat oleh pengarang dalam cerita Fiksi “Sengsara Membawa Nikmat” adalah sosial. Nuansa sosial terlihat sekali dalam cerita ini. Seseorang yang mempunyai dendam dan berniat untuk membalaskan dendamnya kepada seseorang karena kecemburuan sosial.
 Pengarang mencoba mengangkat tema demikian karena pengarang mempunyai pandangan yang berbeda dengan kondisi masyarakat dalam cerita ini. Masyarakat yang masih mempunyai ketua suku (pemimpin) yang memimpin kampung daerahnya, dan pemimpin tersebut mempunyai sifat yang tidak adil pada masyarakatnya dengan membeda-bedakan kasta antar penduduknya. Dan pengarang ingin merubah kondisi itu. Dengan demikian diperlukan suatu media dalam penyampaian itu, dengan karangan berbentuk fiksilah yang cocok sebagai media tersebut.
b. Latar/setting

Latar/Setting adalah tempat dan suasana cerita terjadi.  Latar pada novel ini adalah netral. Latar netral yaitu latar dalam sebuah karya fiksi yang mendeskripsikan sifat khas tertentu yang menonjol yang terdapat dalam sebuah latar, sesuatu yang justru dapat membedakan dengan latar lain. Sifat yang ditunjukkan latar tersebut lebih merupakan sifat umum terhadap hal yang sejenis misalnya desa, kota, pasar, dan sebagainya yang dapat berlaku dimana saja, sehingga jika namanya dipindahkan, tidak mempengaruhi pemplotan dan penokohan. 
 Alasan Pengarang menyajikan cerita fiksi ini, tidak lain agar dapat dibaca oleh semua orang. Dengan kata lain, cerita tersebut dapat dinikmati oleh semua pembaca secara universal.
c. Alur/plot

Alur/plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu.  Alur/plot dalam novel ini adalah alur maju yang mengalir sampai akhir cerita. Alur maju/progresif adalah pengungkapan cerita dari sudut peristiwa-peristiwa yang terjadi dari masa kini ke masa yang akan datang.  Alur maju yang mengalir sampai akhir cerita. Tujuan Pengarang membuat alur yang sangat sederhana, yaitu alur maju/progresif adalah agar pembaca dapat dengan mudah mencerna cerita ini.

  d. Penokohan.

Penokohan adalah pelaku yang ada dalam cerita.  Tokoh utama dalam novel ini ialah Midun. Ia adalah seorang yang pemberani, berbudi luhur, sabar, tanggung jawab, baik hati dan pekerja keras, ulet, pengasih, disenangi semua orang. Kita selidiki ketika terjadinya keabnormalan dalam logika Midun. Disuruh apa saja oleh Kacak, dia mau. Mengapa? Mungkin karena dia merasa bersalah dan itu adalah suatu bentuk pertanggungjawabannya. Tetapi kali ini Kacak sudah berlebihan. Ia menyuruh Midun kerja begitu keras, apa yang tidak semestinya dilakukan Midun, disuruhnya. Apa yang bias dilakukan Midun? Midun tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya bisa berdoa dan bersabar menghitung hari menjalankan hukuman dan akhirya ia pun jatuh sakit. Kacak, Tuanku Laras dan Dulubalang Tuanku Laras adalah tokoh antagonis dalam cerita. Kacak adalah kemenakan penghulu kampung yang sifatnya pendendam, iri hati, suka menganiaya, sombong, seka semema-mena, pemfitnah, egois dan suka menindas kaum yang lemah. Perlakuan Kacak sangat tidak manusiawi terhadap Midun. Kenapa? Karena dendamnya yang sangat membara kepada diri Midun. Ia iri terhadap Midun, karena sikap Midun yang ramah dan pintar bersosialisasi dengan masyarakat, sehingga masyarakat kagum dan menyenangi Midun, dan Midun pun sering menjadi bahan perbincangan masyarakat setempat. Sedangkan ia yang masih mempunyai ikatan keluarga dengan Tuanku Laras tidak disenangi, bahkan masyarakat enggan menegurnya dikarenakan sifatnya yang sombong. Tuanku Laras adalah seorang pemimpin yang tidak adil kepada rakyatnya, egois, sombong dan membeda-bedakan kasta penduduknya satu sama lain. Tokoh protagonisnya adalah orang tua Midun, Haji Abbas dan masyarakat setampat yang berpendapat bahwa Midun orang baik dan meyakini bahwa Tuanku Laras telah difitnah orang.

  e. Sudut Pandang (point of view)

Sudut pandang adalah cara pandang pengarang terhadap tokoh.  Dalam novel ini menggunakan sudut pandang dia-an terbatas, karena pengarang tidak menjelaskan secara detail tentang pemikiran dan perasaan tokoh dalam cerita tersebut, pengarang hanya menjelaskan luarnya saja, tidak menjelaskan pikiran dan perasaan tokoh. Justru ini adalah kekurangan dalam cerita ini, pembaca tidak dapat langsung masuk dan berperan menjadi tokoh dalam cerita tersebut.

  f. Genre

 Genre adalah jenis yang dihasilkan dari kesastraan atau kesenian yang mempunyai gaya, bentuk, atau isi tertentu.  Novel ini termasuk genre sastra fiksi sosial. Suasana sosial sangatlah jelas terasa pada isi cerita ini. Mengenai suatu kondisi sosial dalam masyarakat yang masih mempunyai kepala suku dan kepala suku (pemimpin) dalam masyarakat tersebut tidak adil dan membeda-bedakan kasta antar penduduknya. Terlihat dalam sikapnya yang membela kemenakannya Kacak. Ide cerita yang muncul pada novel ini banyak mengilhami karya sastra modern.

  g. Amanat/pesan

 Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang lewat karyanya.  Dalam novel ini pengarang mengemukakan pesannya secara tidak langsung. Jadi, pembaca sendiri yang harus mencarinya (tersirat).
 Amanat yang dapat diambil setelah pembaca membaca cerita ini adalah mengusung dinamika kehidupan dan dilema dari rasa dengki yang berbuah dendam membara. Pembaca serasa dibawa untuk ikut terharu mendalami cerita ini. Kesengsaraan dan kepahitan hidup yang diterima dengan ikhlas akan menghasilkan nikmat yang tak terperi. Jadi pemimpin itu harus adil, tidak boleh membeda-bedakan kasta. Apapun bentuk dendam, tidak akan menyelesaikan suatu masalah. Yang ada hanya akan menimbulkan kebencian dan ketidak sukaan orang lain. Dan sikap iri hati, hanya akan membawa kehancuran dalam kehidupan bersosialisasi.

  f. Gaya bahasa

Gaya bahasa yang digunakan begitu mudah dicerna, walaupun pembaca harus berkutat dengan kebingungan akan penggunaan bahasa melayunya. Namun, cerita ini adalah hasil karya sastra yang mengagumkan. Pengarang berhasil mengolah kata menjadi kalimat yang indah dan dibumbui dengan kata kiasan, pepatah, pantun, dan peribahasa yang tepat.


2. Unsur Ekstrinsik

Untuk menganalisis unsur ekstrinsik diperlukan pendekatan. Pendekatan-pendekatan ini dimaksudkan agar analisis bersifat objektif  dan dapat dipertanggungjawabkan. Pendekatan yang digunakan disini adalah pendekatan sosiologis.
Faktor-faktor di luar teks termasuk dalam latar belakang sosial Pengarang dalam menciptakan karya sastra. Sedangkan hubungan teks sastra dengan masyarakat, karya itu adalah cerminan dari masyarakat pada waktu itu.

a. Latar Belakang Pengarang

Tulis Sutan Sati lahir pada tahun 1898 di Bukittinggi, Sumatra Barat, meninggal pada tahun 1942 zaman Jepang. Karya-karyanya terdiri atas asli dan saduran, baik roman maupun syair. Karya-karyanya yang asli berbentuk roman adalah Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tidak Tahu Membalas Guna (1932), Tak Disangka (1932), dan Memutuskan Pertalian (1932), sedangkan karya-karya sadurannya dalam bentuk syair adalah Siti Marhumah Yang Saleh (saduran dari cerita Hasanah yang saleh), Syair Rosina (saduran tentang hal yang sebenarnya terjadi di Betawi pada abad lampau), Sabai nan Aluih (saduran dari sebuah kaba Minangkabau dalam bentuk prosa beriman).. Pengarang merupakan bagian dari angkatan Balai Pustaka, sastrawan Indonesia. Pengarang yang meninggal dalam usia 44 tahun ini, pernah menjadi guru dan redaktur Balai Pustaka. Ia adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka.
Novel ini pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1928. Walaupun merupakan sastra lama, cerita yang tersaji begitu memikat para pecinta sastra sehingga tak mengherankan jika novel ini mengalami cetak ulang yang ketigabelas pada tahun 2001. Novel ini adalah salah satu karya sastra yang memperkaya horison sastra Indonesia pada zamannya. 


b. Hubungan Antara Teks Dengan Masyarakat

Hubungan teks sastra dan masyarakat berkaitan erat antar teks sastra dengan kenyataan. Di dalam karya sastra terdapat nilai sosial budaya sebagai cerminan dari masyarakat.
Dalam novel ini, terlihat kondisi sosial masyarakat Minangkabau yang bertolak belakang dengan kondisi sosial pada masa ini. Masyarakat yang masih mempunyai kepala suku (penghulu kampong) sebagai pemimpin disuatu perkampungan, dan pemimpin tersebut kurang adil, sombong dan egois kepada penduduknya. Pengarang mempunyai pola pikir yang berbeda terhadap kondisi masyarakat pada saat itu. Dan ia ingin merubah sifat pemimpin tersebut dengan menjadikan Midun sebagai perantaranya. Dia mengembangkan pikiran Midun sebagai masyarakat kecil yang tidak mempunyai hak untuk membela diri.

C. Kesimpulan
Novel “Sengsara Membawa Nikmat” merupakan novel yang dikemas secara menarik dan imajinatif. Novel ini penuh petualangan tragis dan heroik Isinya merupakan pencerminan masyarakat minangkabau pada masa itu yang masih mempunyai kepala suku (penghulu kampong), dan ia mengembangkan perasaan masyarakat kecil dengan menjadikan Midun sebagai perantaranya. Sentuhan jiwa yang mendalam dari pengarang, sangat mengena di hati pembaca sehingga memberi kesan yang mendalam bagi pembaca. Kelebihan cerita ini adalah kepiawaian pengarang dalam mengemas cerita ini, menjadi sebuah novel yang mengharukan, penuh heroik dan mengusung makna hidup yang amat dalam. Daya pikat yang dimiliki novel ini adalah konflik antara tokoh utama serta konflik batin yang mampu tertambat di hati pembaca. Pengarang juga memberikan alur yang sangat sederhana untuk dinikmati para pembacanya, yaitu alur maju. Sehingga pembaca tidak disulitkan untuk lama-lama berpikir memahami isi cerita ini. 
Dibalik keindahan dan daya pikat yang ada, cerita ini membuat pembacanya mendapatkan kesulitan dalam menangkap maksud Tulis Sutan Sati, terutama karena banyaknya bahasa Melayu yang digunakan. Selain itu, ending yang ditampilkan tidak mengesankan sebagai sebuah klimaks yang menarik. Padahal sebagian besar cerita ini diwarnai dengan konflik. Ending tersebut sangat mudah diterka oleh pembaca. Dan dalam novel ini pula pengarang memakai sudut pandang diaan terbatas. Dimana Pengarang tidak menjelaskan secara detail apa yang dirasakan dan dipikirkan tokoh dalam cerita, Pengarang hanya menjelaskan secara luarnya saja, secara lintas saja. Itu menyebabkan pembaca kurang merasakan apa yang dialami benar-benar pada tokoh-tokoh dalam cerita ini dan pembaca kurang meresapi apabila pembaca menjadi salah seorang tokoh dalam cerita ini. Meski demikian , novel ini sangat layak untuk dibaca karena ceritanya begitu memikat dan penuh muatan yang dapat direnungkan dan diambil jadi teladan.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dimensi. 2006. Bahasa Indonesia, semester II.  Jakarta: Swadaya Murni
DepDikBud. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke-2.  Jakarta: Balai pustaka
Laelasari S. S., dan Nurlilah, S. S., 2006. Kamus Istilah Sastra, Bandung: Nuansa Aulia
Rosidi, Ajip. 1988. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Binacipta
Suryanto, Alex dan Haryanta, Agus. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Tangerang: PT Gelora Aksara Pratama
Sati, Sutan, Tulis, 2006. Sengsara Membawa Nikmat. Jakarta: Balai Pustaka

Sastrawan dan Pengarang angkatan '66

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Sastra Angkatan '66 
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Angkatan ’66 lahir karena adanya peristiwa sejarah Indonesia, tokohnya adalah Taufik Ismail. Tahun 1953 di Amsterdam diadakan simposium tentang kesusastraan Indonesia. Untuk pertama kalinya dibicarakan kemacetan dan krisis sastra Indonesia. Pembicaraan menjadi ramai ketika majalah Konfrontasi di pertengehan 1954 memuat esai Soejatmoko yang berjudul “Mengapa Konfrontasi”. Soejatmoko melihat adanya krisis sastra sebagai akibat dari krisis kepemimpinan politik. Krisis tersebut terjadi karena yang ditulis hanya cerpen kecil yang bercerita sekitar psikologis perseorangan saja. Roman besar tak pernah ditulis.
Salah satu alasan utama terjadinya krisis sastra Indonesia itu karena kurangnya jumlah buku yang terbit. Karenanya sastra hanya terdapat dalam majalah.
Menurut Pradopo (1990: 10)waktu itu berkembang puisi epik yang terkenal dengan balada. Masih menurut Pradopo saat itu untuk dunia puisi memiliki ciri:
1. Bergaya epik (bercerita) 
2. Gaya slogan
 
3. Retorik makin berkembang
Dilihat dari segi ekstrinsik sajak-sajak tadi mengungkapkan masalah sosial kemiskinan, pengangguran, perbedaan kaya dan miskin dan belum adanya pemerataan kenikmatan hidup.
Menurut Jassin pun ada pula memberi ciri-ciri ‘Angkatan 66’, yaitu antara lain:
1. Konsepsinya pancasila.
2. Membawa kesadaran murni manusia yang bertahun-tahun mengalami kezaliman dan perkosaan terhadap kebenaran dan rasa keadilan, kesadaran moral dan agama. Khas pada hasil-hasil kesusastraan ‘66’ ialah protes sosial dan kemudian protes politik.
3. Yang termasuk angkatan ‘66’ ialah: ‘Mereka yang tatkala tahun 1945 berumur 25 tahun”. 

Tokoh pada angkatan ‘66 adalah Taufik Ismail. Taufik Ismail dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1937, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan UI, redaktur senior Horison. Penerima Anugerah Seni dari pemerintah RI tahun 1970 dan Sastra ASEAN tahun 1994 ini telah berjasa besar dalam memasyarakatkan, mengembangkan dan memajukan sastra Indonesia bersama tokoh-tokoh lain. Karena jasa-jasanya dan prestasinya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberinya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang sastra.
Taufiq Ismail adalah pelopor puisi-puisi demonstrasi. Puisi-puisinya adalah puisi demonstrasi yang mengungkapkan tuntutan membela keadilan dan kebenaran. Puisinya adalah protes sosial menentang tirani dan rezim seratus mentri. Puisi Taufiq Ismail menandakan suatu kebangkitan Angkatan 66 dalam dunia perpuisian di Indonesia. Puisi-puisinya kebanyakan bersifat naratif dan prosais. Puisi-puisi demontrasi kebanyakan sangat prosais dan diafan.
Pengarang-pengarang angkatan ‘66 dan hasil karyanya antara lain:

Penyajak:
 1. Taufik Ismail 
Hasil karya : Tirani dan Benteng
2. Goenawan Mohammad 
Hasil karya : Lagu pekerja malam
 
Hari terakhir seoang penyair
3. Mansur Samin 
Hasil karya : Perlawanan
4. Harjoto Handajaya 
Hasil karya : Buat Saudara Kandung
 
Perarahan Jenazah
 
Riwayat
 
Pantun Tidak Bernama
Pengarang prosa: 
1. Bur Rasuanto
 
Hasil karya : Bumi yang Berpeluh (cerpen)
 
Mereka akan Bangki (cerpen)
2. A. Bastari Asnin 
Hasil karya : Di tengah padang (kumpulan cerpen)
3. Yusach Ananda 
Hasil karya : Kampungku yang sunyi (cerpen)

Pengarang-pengarang wanita angkatan ’66 
1. Titi Said 
Hasil karya : perjuangan dan hati perempuan (kumpulan cerpen)
2. Titis Basino 
Hasil karya : Rumah Dara (cerpen)
 
Laki-laki dan Cinta (cerpen)
3. S. Tjahyaningsih 
Hasil karya : Dua Kerinduan



Karya Sastra Angkatan 66

Angkatan 66

Tentang Angkatan 66 ada empat orang penulis yang mengutarakannya. Mereka itu HB Jassin dalam angkatan 66 Prosa dan Puisi (1968) , Satyagraha Hoerip artikelnya dalam horison yang berjudul Angkatan 66 dalam Kesusasteraan Kita (1966) , Artikel Aoh K Hadimadja berjudul Daerah dan Angkatan 66 majalah Horizon-1967, Artikel Racmat djoko Pradopo Penggolongan Angkatan dan angkatan 66 dalam Sastra-Horison Juni 1967
Mereka memang saling berbeda pendapat atau persepsi namun tak begitu prinsipil karena sesungguhnya tidak ada pihak yang dirugikan. Bagi mereka, para pengarang itu, masuk golongan apapun tak jadi soal.
Akan tetapi menurut HB Jassin, “Angkata 66 Bangkitya Satu Generasi” (Horison, Agustus 1966) adalah suatu angkatan. Adapun yang termasuk dalam angkatan 66 ini menurutnya adalah mereka-mereka yang takkala proklamasi kemerdekaan (1945) kira-kira berumur enam tahun dan baru masuk SD/SR. Jadi tahu 1966 baru sekitar 20-an tahu. Mereka itu telah giat menulis dalam majalah-majalah sastra dan kebudayaan sekitar tahun 1955-an seperti Kisah, Siasat , Mimbar Indonesia , Budaya, Crita, Sastra, Konfrontasi, Basis, Prosa dan sebagainya.
Untuk angkatan 66 seperti yang digolongkan oleh HB Jassin itu, yang lain sekitar zaman pendudukan Jepang, menurut Satyagraha Hoerip lebih tepat kalau dimasukkan kedalam angkatan Manifes ( Horison Desember 1966 ). Tentu saja bukannya tanpa alasan. Sebab memang merekalah yang sebagian besar tergabung atau justru terang-terangan mendukung adanya Manifes Kebudayaan di tahun 1964 yang kemudian dilarang oleh Presiden Soekarno tahun berikutnya.
Dengan demikian bisa dicatat nama-namanya , antara lain : Ajip Rosidi, Rendra, Taufiq Ismail, Hartojo Andangjaya, Mansur Samin, Goenawan Muhammad, Djamil Suhirman , Bur Rasuanto, Bokor Hutasuhut, Bastari Asnin dll. Jadi yang temasuk angkatan 66 ini bukannya yang baru menulis sejak adanya perlawanan ditahun 1966. Tetapi, justru yang telah sejak beberapa tahun sebelumnya dengan satu kesadaran.
Ajip Rosidi didalam kertas kerjanya di Simposium Sastra Pekan Kesenian Mahasiswa Kedua Jakata tahun 1960, malahan sudah menggunakan istilah Angkatan Terbaru. Menurutnya, mereka muncul pada saat dunia sastra kita digamangi oleh kemuraman karena adanya krisis, kelesuan dan impase (kebuntuan). Mereka merupakan hasil pengajaran yang tumbuh dalam pengaruh kesusasteraan Indonesia. Mereka telah memberikan nilai baru terhadap ilham dan tempat berpijak serta berakar secara kultural.
Untuk lebih jelasnya, lihat buku Ajip Rosidi Kapan Kesusasteraan Indonesia Lahir (1968), juga simak tulisan HB Jassin Angkatan 66, Bangkitnya satu generasi, dalam bukunya Angkatan 66 Prosa dan Puisi terbitan tahun 1968.



Kajian Drama (Analisis Unsur Intrinsik PAGI BENING)

PAGI BENING
Unsur Intrinsik

1.    Tema  : Pertemuan seorang tokoh wanita dengan pria yang pernah ia kenal
2.    Tokoh & penokohan
a.    Donna Laura      : Wanita tua yang berumur kira-kira 70 tahun, tegas, dan masih nampak jelas bahwa dulunya cantik dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa mentalnya juga baik.
b.     Don Gonzalo    : Lelaki tua yang berumur kira-kira 70 tahun lebih, tegas, agak congkak atau sombong dan selalu tampak tidak sabaran.
c.     Petra                 : Gadis pembantu Laura orangnya ramah dan sangat penurut dengan donna laura.
d.    Juanito              : Pemuda pembantu Gonzalo orangnya baik, sopan, ramah dan sangat penurut dengan don gonzalo.

3.    Alur / Plot
Stanton (1965: 14) mengemukakan alur adalah cerita yang berisi kejadian tetapi tokoh-tokoh tersebut adalah unsur penting dalam sebuah cerita. Pentingnya unsur tersebut pada fungsi tokoh yang memainkan suatu peran sehingga cerita tersebut dapat dipahami oleh pembaca. Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000: 113) mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat dan peristiwa yang lain.
Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan atau rangkaian peristiwa berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.  
a.    Pengenalan
Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang akan dihadapi penonton.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!.
(Donna laura masuk, berpegangan tangan pada petra. tangannya yang lain membawa payung yang juga untuk tongkatnya ).

b.    Pertikaian
Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
Laura          : (marah). Awas hati-hati!
Gonzalo     : Apa Senora berbicara dengan saya?
Laura          : Ya, dengan tuan!
Gonzalo     : Ada apa?
Laura          : Tuan menakut-nakuti burung-burung merpati saya!
Gonzalo     : Peduli apa burung-burung itu!
Laura          : Apa, ha?
Gonzalo     : Ini taman umum, Senora!
Laura          : Tapi kenapa tadi tuan mengutuki pendeta-pendeta di sana itu?
Gonzalo     : Senora, tapi kita belum pernah jumpa! Dan kenapa tadi Senora menegur saya? Ayo, juanito! (melangkah ke kanan)
Laura          : Buruk amat perangai si tuan itu! Kenapa orang mesti jadi tolol dan pandir kalau sudah meningkat tua? (melihat ke kanan). Syukur. Ia tidak mendapat bangku! Itu, orang yang menakut-nakuti merpati-merpatiku. Ha, ia marah-marah. Ya, ayo, carilah bangku kalau kau dapat! Aduh, kasihan, ia menyeka keringat di dahi. Nah, itu dia kemari lagi. Debu-debu mengepul seperti kereta lewat! (juanito dan gonzalo masuk)
Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk ke dalam tahap pertikaian atau konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa ada bahaya yang menghampiri mereka.

c.    Puncak
Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini, berkembang hingga  menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran  ingin mengetahui  penyelesaiannya.

Perhatikan  petikan drama berikut ini!
Laura          : Maricella. Apa tuan  pernah mendengarnya? 
Gonzalo     : Tak asing lagi nama itu ... ah, kita tambah tua tambah pelupa ... di Villa itu dulu ada seorang wanita paling cantik yang pernah saya lihat dan saya kenal. Dan namanya ... O ya, Laura Liorento!
Laura          : (Kaget) Laura Liorento?
Gonzalo     : Benar (mereka saling tatap)
Laura          : (sadar lagi) Ah, tak apa-apa, hanya mengingatkan saya pada teman karib saya.
Gonzalo     : Aneh juga.
Laura          : Memang aneh! Dia diberi sebutan “ Perawan Bagai Perak”.
Gonzalo     : Tepat, “Perawan Bagai Perak”. Nama itulah yang terkenal di sana. Sekarang saya seperti melihatnya kembali di jendela di antara kembang mawar merah itu. Nyonya ingat jendela itu?
Laura          : Ya, saya ingat itulah jendela kamarnya.
Gonzalo     : Dulu dia suka berjam-jam di jendela.
Laura          : (melamun) Ya, memang dulu dia suka begitu.
Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa puncak masalah itu  adalah ketia Laura terkejut dengan pernyataan-pernyataan yang diucapkan Gonzalo sewaktu ia masih tinggal di Villa Maricella.

d.   Penyelesaian
Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan.  Bahkan dapat pula diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga mendorong  penonton untuk mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.
Perhatikan penggalan teks  drama berikut ini!
Laura          : Tak salah, dialah Gonzalo!
Gonzalo     : (ke samping) Tak salah, dialah Laura! (mereka masing-masing melambaikan tangan)
Laura          : Mungkinkah dia itu benar orangnya?
Gonzalo     : Ya Allah, diakah orangnya itu?
(keduanya tersenyum)
Pada tahap penyelesaian drama ini dapat dilihat bahwa drama ini berakhir dengan tanda tanya karena permasalahan itu di akhiri dengan sebuah senyuman rasa ketidakpastian diantara keduanya. Ini semua disebabkan karena tidak adanya kejujuran diantara mereka.

4.    Latar/ Setting
-          Di taman
5.    Sudut  pandang
     Sudut pandang ke-3 orang yang serba tahu

6.    Gaya bahasa
Berikut gaya bahasa yang terdapat pada drama “Pagi Bening” :
a.    Personifikasi, adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan seolah-olah benda mati itu hidup. Perhatikan  petikan drama berikut ini!
Laura                 : Adios! (memandang ke arah pepohonan). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti datang menemui aku (bangkit dan menyerahkan remah-remah roti). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (tertawa dan duduk lagi memandang merpati yang sedang makan). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu ... aduh , kenes benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi diri. Agaknya ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang? Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!

Laura                 : Saya pun merasa enak sekarang.  (ke samping) Obat itu telah mendamaikan kami rupanya!

b.    Hiperbola, adalah gaya bahasa yang menyatakan melebih-lebihkan.
Gonzalo             : Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada kelinci-kelinci dan burung-burung.
Laura                 : Ya, membunuh waktu! Apa hanya waktu saja bisa tuan bunuh?
Gonzalo             : Ya, Senora. Tiap Minggu saya menyandang bedil bersama anjing saya pergi ke Arazaca. Iseng-iseng berburu! Membunuh waktu!
Gonzalo             : Nyonya kira begitu? Saya bisa menunjukkan kepala beruang besar dikamar saya!
Laura                 : Dan saya juga bisa menunjukkan kepala singa di kamar tamu saya, meskipun saya bukan pemburu!
c.    Ironi, adalah gaya bahasa yang menyatakan sindiran.
Gonzalo             : Juanito! Buku! Bosan mendengarkan nonsense macam itu!

Laura                 : Alangkah sopan santun tuan ini!