PAGI BENING
Unsur
Intrinsik
1. Tema : Pertemuan seorang tokoh wanita dengan pria yang pernah ia kenal
2. Tokoh
& penokohan
a. Donna Laura : Wanita tua yang berumur kira-kira 70
tahun, tegas, dan masih nampak jelas bahwa dulunya cantik dan tindak tanduknya
menunjukkan bahwa mentalnya juga baik.
b. Don Gonzalo :
Lelaki
tua yang berumur kira-kira 70 tahun lebih, tegas, agak congkak atau sombong dan
selalu tampak tidak sabaran.
c. Petra :
Gadis
pembantu Laura orangnya ramah dan sangat penurut dengan donna laura.
d. Juanito :
Pemuda
pembantu Gonzalo orangnya baik, sopan, ramah dan sangat penurut dengan don
gonzalo.
3. Alur
/ Plot
Stanton (1965: 14) mengemukakan alur adalah cerita yang berisi kejadian
tetapi tokoh-tokoh tersebut adalah unsur penting dalam sebuah cerita.
Pentingnya unsur tersebut pada fungsi tokoh yang memainkan suatu peran sehingga
cerita tersebut dapat dipahami oleh pembaca. Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000:
113) mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian namun
tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat dan peristiwa yang
lain.
Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan atau rangkaian peristiwa
berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga
harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir
(penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog,
petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam
beberapa tahapan, sebagai berikut.
a. Pengenalan
Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para
tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang akan
dihadapi penonton.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!.
(Donna laura
masuk, berpegangan tangan pada petra. tangannya yang lain membawa payung yang
juga untuk tongkatnya ).
b. Pertikaian
Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan
pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
Laura : (marah).
Awas hati-hati!
Gonzalo : Apa Senora
berbicara dengan saya?
Laura : Ya, dengan tuan!
Gonzalo : Ada apa?
Laura : Tuan
menakut-nakuti burung-burung merpati saya!
Gonzalo : Peduli apa
burung-burung itu!
Laura : Apa, ha?
Gonzalo : Ini taman umum,
Senora!
Laura : Tapi kenapa
tadi tuan mengutuki pendeta-pendeta di sana itu?
Gonzalo : Senora, tapi
kita belum pernah jumpa! Dan kenapa tadi Senora menegur saya? Ayo, juanito! (melangkah ke kanan)
Laura : Buruk amat
perangai si tuan itu! Kenapa orang mesti jadi tolol dan pandir kalau sudah
meningkat tua? (melihat ke kanan).
Syukur. Ia tidak mendapat bangku! Itu, orang yang menakut-nakuti
merpati-merpatiku. Ha, ia marah-marah. Ya, ayo, carilah bangku kalau kau dapat!
Aduh, kasihan, ia menyeka keringat di dahi. Nah, itu dia kemari lagi. Debu-debu
mengepul seperti kereta lewat! (juanito
dan gonzalo masuk)
Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk ke dalam tahap
pertikaian atau konflik.
Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa ada bahaya yang menghampiri
mereka.
c. Puncak
Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan
keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini,
berkembang hingga menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat
berdebar, penasaran ingin mengetahui penyelesaiannya.
Perhatikan petikan drama berikut ini!
Laura : Maricella. Apa
tuan pernah mendengarnya?
Gonzalo : Tak asing lagi nama itu ... ah, kita tambah tua tambah
pelupa ... di Villa itu dulu ada seorang wanita paling cantik yang pernah saya
lihat dan saya kenal. Dan namanya ... O ya, Laura Liorento!
Laura : (Kaget) Laura
Liorento?
Gonzalo : Benar (mereka
saling tatap)
Laura : (sadar lagi) Ah, tak apa-apa,
hanya mengingatkan saya pada teman karib saya.
Gonzalo : Aneh juga.
Laura : Memang aneh!
Dia diberi sebutan “ Perawan Bagai Perak”.
Gonzalo : Tepat, “Perawan Bagai Perak”. Nama itulah yang terkenal
di sana. Sekarang saya seperti melihatnya kembali di jendela di antara kembang
mawar merah itu. Nyonya ingat jendela itu?
Laura : Ya, saya ingat
itulah jendela kamarnya.
Gonzalo : Dulu dia suka
berjam-jam di jendela.
Laura : (melamun) Ya, memang dulu dia
suka begitu.
Pada kutipan di atas dapat
dilihat bahwa puncak masalah itu adalah ketia Laura terkejut dengan
pernyataan-pernyataan yang diucapkan Gonzalo sewaktu ia masih tinggal di Villa
Maricella.
d. Penyelesaian
Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan
penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan. Bahkan dapat pula
diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga mendorong penonton untuk
mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.
Perhatikan penggalan teks drama berikut ini!
Laura : Tak salah,
dialah Gonzalo!
Gonzalo : (ke samping)
Tak salah, dialah Laura! (mereka masing-masing melambaikan tangan)
Laura : Mungkinkah dia
itu benar orangnya?
Gonzalo : Ya Allah,
diakah orangnya itu?
(keduanya
tersenyum)
Pada tahap penyelesaian drama ini
dapat dilihat bahwa drama ini berakhir dengan tanda tanya karena permasalahan
itu di akhiri dengan sebuah senyuman rasa ketidakpastian diantara keduanya. Ini
semua disebabkan karena tidak adanya kejujuran diantara mereka.
4. Latar/
Setting
-
Di taman
5. Sudut
pandang
Sudut pandang ke-3 orang yang serba tahu
6. Gaya
bahasa
Berikut gaya bahasa yang terdapat pada
drama “Pagi Bening” :
a. Personifikasi,
adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan seolah-olah benda mati itu hidup. Perhatikan petikan drama berikut ini!
Laura : Adios!
(memandang ke arah pepohonan). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti
datang menemui aku (bangkit dan
menyerahkan remah-remah roti). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan
ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (tertawa dan duduk lagi memandang
merpati yang sedang makan). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar
mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu ... aduh , kenes
benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi
diri. Agaknya ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang?
Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih
banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!
Laura : Saya pun merasa
enak sekarang. (ke samping) Obat itu telah mendamaikan kami
rupanya!
b. Hiperbola,
adalah gaya bahasa yang menyatakan melebih-lebihkan.
Gonzalo : Kalau tidak
percaya, tanyakan saja kepada kelinci-kelinci dan burung-burung.
Laura : Ya, membunuh
waktu! Apa hanya waktu saja bisa tuan bunuh?
Gonzalo : Ya, Senora.
Tiap Minggu saya menyandang bedil bersama anjing saya pergi ke Arazaca.
Iseng-iseng berburu! Membunuh waktu!
Gonzalo : Nyonya kira
begitu? Saya bisa menunjukkan kepala beruang besar dikamar saya!
Laura : Dan saya juga
bisa menunjukkan kepala singa di kamar tamu saya, meskipun saya bukan pemburu!
c. Ironi, adalah
gaya bahasa yang menyatakan sindiran.
Gonzalo : Juanito! Buku!
Bosan mendengarkan nonsense macam itu!
Laura : Alangkah sopan
santun tuan ini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar